Senin, 21 November 2016

Bersama Ki Sambarlangit, Yohanes Chandra Belajar Aksara Jawa (Bagian 1)


Bersama Ki Sambarlangit, Yohanes Chandra Belajar Aksara Jawa (Bagian 1)
Aksara-aksara kuno sering dihubungkan dengan hal-hal yang mistis. Di tanah Jawa ini ada dua jenis aksara yang biasanya dianggap mistis, yaitu aksara Jawa dan aksara Arab. Menurut Yohanes Chandra Eka dan Ki Sambarlangit, kedua aksara tersebut sering dihubungkan dengan hal-hal mistis karena dua aksara tersebut sering digunakan sebagai rajah.

Ki Sambarlangit dan Yohanes Chandra Eka menambahkan bahwa rajah itu fungsi awalnya digunakan sebagai jimat. Jadi, kumpulan aksara Jawa dan Arab tadi kadang disusun atau dibentuk menyerupai gambar, simbol atau hewan tertentu. Fungsi dari rajah pun bermacam-macam. Ada yang berfungsi untuk penyembuhan, kekuatan, percintaan, dan supranatural.

Kali ini Ki Sambarlangit memiliki agenda untuk mengajari Yohanes Chandra Ekajaya spiritual aksara Jawa. Jadi bukan hanya belajar tentang aksara Jawa, tetapi juga belajar tentang roh atau jiwa dari aksara Jawa tersebut.

Yohanes Chandra Ekajaya mengatakan bahwa sebagai orang Jawa, akan sangat memalukan bila tidak bisa membaca, menulis, dan menggunakan aksara Jawa. Itulah alasan yang mendasari keinginan Yohanes Chandra untuk mempelajari aksara Jawa.

Meskipun jenis-jenis aksara Jawa itu sangat banyak tetapi Ki Sambarlangit hanya akan mengajari Yohanes Chandra jenis aksara Jawa terbaru. Aksara Jawa jenis terbaru ini berjumlah dua puluh buah. Baris pertamanya yaitu ha, na, ca, ra, ka. Baris keduanya berbunyi da, ta, sa, wa, la. Baris ketiganya pa, dha, ja, ya, nya. Baris keempat sekaligus penutupnya adalah ma, ga, ba, tha, nga.

Menurut Yohanes Chandra Eka, aksara Jawa terbentuk karena legenda Dora Sembada. Dua abdi dari Ajisaka yang mengalahkan Dewata Cengkar. Dikisahkan Dora dan Sembada saling menyerang karena sama-sama menuruti perintah tuannya. Pada awalnya setelah Ajisaka mengalahkan Dewata Cengkar, ia menyuruh Dora untuk tinggal di daerah tersebut dan menjaga pusakanya, dan tidak boleh diserahkan selain kepada dirinya. Kemudian Ajisaka dan Sembada melanjutkan perjalanan. Setelah beberapa waktu berlalu, ingatlah Ajisaka akan pusakanya. Ia pun lalu mengutus Sembada untuk mengambil pusakanya yang dititipkan ke Dora.


EmoticonEmoticon