Kamis, 20 April 2017

Pop-up Anis Bangkit setelah Merugi dan Tertipu

Gigih, yakin, dan pantang menyerah, itu kunci ke suksesan dara kelahiran 16 Maret 1990. Kini, Anis memiliki mini galery pribadi di Jalan Angkasa RT 05 RW 20 Kelurahan Gulon, Kecamatan Jebres yang dijadikan rumah produksi. Di bagian depan ruangan, terpampang puluhan karya pop-up hasil karya Anis bersama teman-temannya yakni Hanik Farida, Dewi Kusuma, dan Halimah. Di ruang belakang, dijadikan mereka tempat menggarap pesanan pelanggan.

"Sebelum punya ini (mini galery, Red), semua pesanan pop-up dikerjakan di rumah. Baru pada 2016, saya mengontrak tempat ini dan mengajak teman- teman lainnya yang basicnya juga perajin dan punya keinginan kuat belajar," terang warga Kelurahan Gentan, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo. Memutuskan menjadi perajin, kata Anis, setelah dirinya mengalami kecelakaan sehingga menyebabkan kondisi kesehatannya menurun. Dia kemudian memutuskan mundur dari posisinya sebagai staf konsultan psikolog dan asisten dosen "Sebenarnya dulu pekerjaan ini (membuat pop-up,Red) hanya sambilan di rumah. Tapi sekarang fokus menjadi perajin," jelas dia.

Karena sudah memiliki tempat usaha dan rekan-rekan yang membantunya, Anis berani me-branding karyanya dengan nama Biji Kacang Craft. "Konsepnya seperti perkebunan. Kita-kita ini ibarat petani. Kalau pembeli itu pemetik. Kalau sudah ada proses jual beli, kita namakan panen," kelakarnya. Sebelum membuat pop-up, Anis menekuni kerajinan membuat tas dan baju anak. Namun, karena tidak memiliki basic penjahit, dia malah merugi Rp 2 juta. Rupanya, kendala itu malah menjadi penyemangat. Dia mencari cara menjadi pengusaha sukses.

Dok.Chandra Ekajaya

"Ketemu pop-up juga tidak sengaja. Tadinya saya mau memberikan kado teman yang menikah. Karena saya bisa menggambar, iseng gambar. Tapi kok kurang manteb kalau cuma digambar. Akhirnya saya cari-cari ketemulah pop-up ini," ujar dia. Mendapat kado istimewa dari Anis, rekannya menguploadnya ke media sosial. Tak disangka, banyak yang merespons dan tertarik untuk memiliki. Dari situ, mulai berdatangan pesanan pop-up untuk kado ulang tahun, hadiah wisuda, hingga mahar pernikahan.

Ujian kembali datang. Beberapa pembeli tidak mengambil pop-up yang dengan susah payah dibuat Anis. Ini membuatnya merugi. "Ada juga yang belum bayar sudah diambil (hasil kerajinan, Red). Ketika ditagih susah dihubungi, ya sudah saya ikhlas saja," urainya. Dari pengalaman itu, Anis selalu meminta bayaran di awal. Sekaligus menjaga proses produksi lancar dengan cepat. "Ya bukannya apa-apa. Karena masih usaha kecil, jadi butuh uang dulu buat beli ini itu (bahan kerajinan, Red). Ya untuk operasional," ungkap Anis.

Melayani permintaan pembeli pop-up cukup rumit. Kali pertama, Anis harus mengetahui konsep yang diinginkan konsumen. Setelah itu, mendesainnya untuk dikirimkan ke pembeli. Setiap konsumen memiliki kesempatan dua kali revisi. Setelah fix, desain dicetak dan dipotong sesuai pola. Pola-pola tersebut dirangkai menggunakan Styrofoam sebagai ganjal dan menciptakan efek timbul alias tiga dimensi. Selain Kota Solo, produk pop-up Anis sudah terjual ke Aceh, Sulawesi, Kalimantan, Jogja, Jakarta, hingga Papua.

Media yang digunakan tidak melulu pigura. Toples kerupuk, tempat selai, hingga kayu bisa menjadi wadah mengekspresikan karyanya. "Bahan baku kayu beli di perajin daerah Sukoharjo. Lainnya di toko-toko di Solo juga banyak," tutur Anis. Pop-up hasil karya Anis dibanderol Rp 50 ribu hingga 2,5 juta. Menyesuaikan ukuran serta kerumitan konsep. Harga tersebut sebanding dengan kualitas. "Saya ingin mengedukasi masyarakat bahwa kerajinan itu bukan perkara mudah, ada proses-proses yang harus dijalani dan memiliki harga sendiri. Kalau saya pasang harga murah, berarti yang menghargai rekan-rekan saya murah," papar dia. Saat ini, dalam sebulan, Anis bisa merampungkan minimal 25 pesanan pop-up. Omzet yang dikantongi sekitar Rp 8 juta. "Kalau laba bersih, ya setengahnya. Sisanya modal beli kayu, belum lagi buat bayar sewa dan kebutuhan-kebutuhan lainnya," terang dia. 


EmoticonEmoticon