Kamis, 23 Maret 2017

Chandra Ekajaya Bantu Peternakan Rakyat

Pengusaha Chandra Ekajaya saat ini sedang memperhatikan bisnis peternakan di Indonesia. Menurut beberapa berita dan informasi terakhir, kondisi peternakan, khususnya peternakan unggas di negara ini berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Oleh karena itu, perlu dilakukan tindakan supaya kondisi ini tidak terus menerus terjadi serta penyelamatan usaha peternakan di masyarakat bisa berjalan. Salah satu contoh bahwa kondisi peternakan memang sedang berbahaya adalah beberapa bulan terakhir, harga telur ayam dari peternak mengalami penurunan yang sangat drastis. Menurut data yang diperoleh, harga telur sempat turun ke angka 13.800 rupiah per kilogram. Harga ini sangat jauh dari titik impas untuk mengembalikan modal yang dinilai sekitar 17 ribu rupiah per kilogramnya. Media yang berfokus pada ekonomi mengemukakan data di lapangan bahwa menurunnya harga telur disebabkan oleh penurunan permintaan masyarakat. Selain itu ada juga telur yang sudah siap tetas dijual ke pasaran umum.

Padahal telur-telur yang sifatnya siap tetas hanya diperuntukkan bagi peternak ayam. Khususnya untuk ayam pedaging, karena nantinya ayam-ayam tersebut akan dijual kembali. Begitu juga dengan bebek. Kebanyakan masyarakat memesan bebek dan ayam karena ingin digunakan sebagai bahan kuliner. Tetapi bukan berarti telur yang sudah siap hampir tetas tersebut kemudian dijual langsung ke masyarakat, karena nantinya akan mempengaruhi harga pasar. Sebenarnya ini merupakan permasalahan yang sudah lama terjadi di dunia peternakan Indonesia. Karena itu, maka negara ini memerlukan sistem atau kebijakan baru dimana sistem tersebut dapat membantu para peternak untuk memperbaiki pola distribusi dan harga yang selama ini menjadi faktor penentu mereka dalam berproduksi. Mereka pun nantinya juga harus memikirkan sistem supaya permintaan dari masyarakat tidak mencapai penurunan yang drastis. Mereka lebih berharap jika permintaan dari masyarakat stabil setiap bulannya. Sehingga perhitungan mereka akan lebih jelas. Permasalahan sistemik ini utamanya berada di wilayah peternakan ayam pedaging dan ayam petelur.

Chandra Ekajaya Peternakan Unggas


Berdasarkan data nasional, pengusaha Chandra Ekajaya menuturkan bahwa kebutuhan daging ayam di masyarakat hanya mencapai 2,8 miliar ekor per tahunnya. Tetapi ada data lain yang menyebutkan bahwa pasokan daging ayam saat ini sangat melimpah ruah. Bahkan menurut data tersebut per minggunya mencapai angka 18 juta ekor, atau sekitar 3,5 miliar ekor per tahunnya. Tentu saja hal yang sangat luar biasa dan membanggakan. Tetapi bila dihubungkan dengan situasi pasar dan ekonomi, kelebihan produksi justru akan menyebabkan harga jual di tingkatan peternak turun dengan drastis. Bahkan turun di bawah harga pokok produksi. Komisi pengawas persaingan usaha pun menyebutkan bahwa nilai dari sektor usaha peternakan unggas, baik ayam maupun bebek dari hulu ke hilir saat ini mencapai angka 450 triliun rupiah per tahun. Bila dibandingkan dengan sektor minyak dan gas (migas) maka nilai penjualan unggas lebih tinggi. Dengan nilai yang sebanyak itu, maka wajar saja jika ada praktik monopoli atau pun kartel. Semua hal tersebut sangat dimungkinkan.

Persoalan tersebut mulai muncul saat terjadi perubahan undang-undang. Disebabkan amandemen tersebut maka dunia peternakan unggas berubah secara total. Bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelum 2009, banyak bermunculan peternak ayam mandiri. Bahkan jumlah mereka mencapai 80 persen, sedangkan sisanya yang 20 persen dikuasai oleh perusahaan. Tetapi setelah adanya amandemen tersebut, tidak sampai lima tahun kondisi berubah 180 derajat. Peternak unggas mandiri atau peternak rakyat berubah menjadi 20 persen, sedangkan angka 80 persen dikuasasi oleh perusahaan. Kondisi yang demikian memang diperbolehkan oleh undang-undang, dimana isi undang-undang tersebut memperbolehkan pengusaha untuk memasuki bisnis budi daya peternakan unggas. Kemudian dalam pemasarannya pun para integrator atau pengusaha diperbolehkan untuk menjual ayam dan bebek mereka ke pasar tradisional. Padahal sebelum amandemen tersebut berlaku, kebanyakan masyarakat yang menjual ayam ke pasar tradisional adalah para peternak mandiri. Dampak dari berlakunya undang-undang tersebut adalah para integrator akhirnya menguasai seluruh bisnis pertenakan unggas nasional dari wilayah hulu hingga hilir.

Pengusaha Chandra Ekajaya pun menuturkan bahwa segala lini bisnis, mulai dari produksi, penjualan, pakan, obat-obatan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan unggas, berada di bawa kendali para integrator. Menurut rasa keadilan sosial, tentu saja kondisi seperti ini sangat jauh dari kondisi tersebut. Misalnya saja di saat harga daging ayam di pasar tradisional naik hingga mencapai 35 ribu per kilogram, maka para integrator dapat menekan harga penjualan menjadi 15 ribu per kilogramnya. Ini bisa terjadi karena para integrator tersebut dapat menekan biaya yang diperlukan untuk memproduksi unggas, seperti pakan, obat-obatan, doc, dan sebagainya, sehingga mereka dapat menjual unggas dengan harga yang murah. Berbanding terbalik dengan kondisi tersebut, para peternak unggas mandiri atau peternak unggas tradisional harus berani bergelimang darah, tangis, keringat, serta air mata supaya usaha peternakan unggas mereka tidak bangkrut dan gulung tikar. Seharusnya diberlakukan pola yang menyeluruh serta kohesif. Misalnya menyatukan program peternakan dengan perikanan dan pertanian.

Chandra Ekajaya Bantu Peternak Unggas


Bagaimana pun juga menurut pengusaha Chandra Ekajaya, ketiga hal tersebut tidak dapat dipisahkan. Jika hal itu mampu dilakukan maka kemungkinan besar peta poros pangan nasional dan dunia akan berubah. Karena dengan melaksanakan dan menerapkan konsep tersebut maka negara ini justru bisa mengekspor bahan pangan hingga ke luar negeri. Maka dari itu, semangat untuk merubah paradigma dan pola produksi serta distribusi perlu dirumuskan, supaya terwujud suatu sistem yang nantinya akan membuat para petani, nelayan, atau pun peternak tradisional dan mandiri bisa menjadi raja di negerinya sendiri. Mereka bisa mencukupi segala kebutuhan hidupnya dengan mengandalkan hasil peternakan, pertanian atau perikanan saja. Sedangkan sisanya nanti dijual kepada yang membutuhkan. Sebab dalam prinsip utama berdagang adalah pasar sudah ada terlebih dahulu atau bila perlu membentuk pasar dahulu. Bila sudah ada pasarnya barulah menentukan akan memproduksi atau menjual apa. Artinya pasar peternakan unggas harus sudah ada dahulu.

Saat pasar unggas sudah ada, maka yang menjadi tawaran berikutnya adalah produk yang dihasilkan. Misalnya saja dalam peternakan unggas tersebut memakai bahan-bahan organik, baik dari segi pangan, air, atau pun obat-obatan, sehingga tidak perlu khawatir jika unggas-unggas tersebut mengandung racun yang sangat berbahaya bagi tubuh. Bila memang harus berkompetisi dengan para integrator, maka bersiaplah untuk menyediakan produk-produk yang unggul dibandingkan dengan produk mereka. Masyarakat semakin bertambahnya hari akan mencari sumber-sumber makanan yang dapat membuat mereka sehat. Jadi mereka akan mencari makanan yang sehat dan tidak membuat sakit. Kalau para peternak unggas tradisional bisa melihat peluang dan kesempatan ini serta bisa memanfaatkannya dengan sangat baik, pasti masa depan peternakan unggas di Indonesia akan cerah dan bisa membuat para peternak tersenyum bahagia. Semoga saja terwujud sebuah sistem yang baru dan adil bagi rakyat.


Read More

Rabu, 15 Maret 2017

Chandra Ekajaya Trik Baru Mencicipi Nikmatnya Durian

Muda dan kreatif, inilah dua hal yang pantas disematkan oleh Chandra Ekajaya, seorang pengusaha sukses yang dikenal lewat bisnis buah paling populer di Indonesia satu ini. Ya, apalagi kalau bukan durian. Rasanya yang manis, dan kulitnya yang ikonik membuat buah satu ini digemari oleh banyak konsumen baik di Indonesia maupun luar negeri. Namun, tak sedikit pula banyak yang tak tahan dengan buah yang mengeluarkan bau yang menyengat ini.

Nah, kali ini kami akan mengulas sedikit cerita sukses dari seorang pengusaha kuliner satu ini. Memiliki omzet hingga ratusan juta rupiah dan matang di usia muda adalah hal yang pantas diberikan oleh Chandra Ekajaya. Lewat bisnis kulinernya yaitu Durian Blast, Chandra Ekajaya mengaku bahwa bisnis ini bukanlah yang pertama kalinya. Ia mengaku sebelumnya ia banyak gonta-ganti bisnis seperti bisnis kaos, sepatu, rokok elektrik, pomade, alat-alat dapur, dan sebagainya. Namun semuanya gagal. Sosok pria berkepala botak ini pun justru melihat bahwa kegagalan tersebut seperti pepatah yang amat populer di telinga kita. Ya… kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.



Kini, pria berusia 29 tahun tersebut dikenal sebagai pendiri perusaha Durian Blast, sebuah camilan yang telah populer baik di Indonesia maupun luar negeri. Saat ini perusahaan yang beralamat di Jalan Strawberry, Malang, Jawa Timur ini telah berhasil meraup omzet hingga ratusan juta rupiah, ditambah ia berhasil memiliki sekitar 90 agen yang tersebar di seluruh Indonesia.

Duren blast merupakan perpaduan antara buah durian yang ditampilkan dengan bentuk pancake. Chandra Ekajaya mengaku telah melakukan inovasi yang barangkali tak banyak orang melakukanya. Dengan gaa baru, durian tersebut dicampurkan  dalam adonan kemudian dimasukkan ke dalam sebuah cup durian.

Chandra Ekajaya menyadari bahwa rentetan kegagalan bisnis tersebut sebelumnya terjadi karena ia terlalu memikirkan banyak keuntungan dalam bisnisnya. Padahal dalam berbisnis hal yang paling penting adalah membuat para pelangganya puas. Dengan modal sekitar Rp 8 juta, ia pun memulai usaha tersebut.

Ia membeli durian tersebut dari para pemasok besar di Lampung, kemudian memanfaatkan media sosial yang ia miliki untuk memasarkan produk-produknya tersebut. Maka, saat ini dikenallah dengan Durian Blast. Rasanya yang sangat menggigit dan bercita rasa istimewa, menjadi nilai tawar dari produk buatan pengusaha muda satu ini.

Keberhasilan bisnis yang dimiliki oleh Durian Blast tersebut juga diperoleh berkat kesuksesannya memanfaatkan agen penjual Saat ini sekitar 90 agen telah berhasil ia rekrut untuk bekerjasama dengan bisnisnuya tersebut. Dari sistem kerjasama tersebut, ia juga berhasil memberikan peluang kerja dan menambah sumber pendapatan para agen.


Itulah sedikit kisah sukses yang inspiratif dari pengusaha muda Chandra Ekajaya lewat bisnisnya Durian Blast. Yuk, berwirausaha, siapa tahu kalian akan memiliki kesuksesan seperti halnya Chandra Ekajaya.
Read More

Jumat, 13 Januari 2017

Kelahiran Ide Chandra Ekajaya


Banyak orang yang mengatakan bahwa politik meja makan merupakan salah satu cara untuk mendapatkan ide. Politik meja makan sebenarnya merupakan istilah dimana pembahasan masalah dicarikan solusinya di atas meja makan. Chandra Ekajaya mendapat gagasan atau ide dari sebuah proses diskusi di meja makan. Ide yang ia dapat adalah menggagas sebuah komunitas.




Komunitas yang digagas oleh Chandra Ekajaya ini disebut dengan nama Knights. Kebanyakan anggota komunitas ini berprofesi sebagai pengusaha. Komunitas ini berlokasi di kabupaten Wonosobo, karena gagasan akan pembentukan komunitas tersebut diadakan di kabupaten tersebut. Sehingga kebanyakan anggotanya pun berasal dari wilayah tersebut, meskipun ada juga yang berasal dari Banjarnegara, Temanggung, dan wilayah terdekat lainnya.

Menurut Chandra Ekajaya, setiap bulannya komunitas ini mengadakan pertemuan. Tujuan dari penyelenggaraan pertemuan itu bukan hanya untuk ajang silaturahmi, tetapi komunitas ini juga membicarakan dan mendiskusikan banyak hal. Tema yang diobrolkan tidak jauh dari bisnis. Diantaranya saham, keadaan ekonomi, pengalaman bisnis, fesyen terbaru, informasi kuliner, dan berbagai macam topik lainnya.

Jabatan ketua komunitas Angels saat ini dipercayakan kepada Chandra Ekajaya. Sebagai pendiri dan penggagas, sangat pantas bila jabatan tersebut dipercayakan kepadanya. Sebagai ketua ia selalu menekankan konsep dan asas kekeluargaan pengusaha. Makanya lokasi tempat berkumpul kebanyakan berada di kafe atau restoran ternama di kabupaten Wonosobo.

Chandra Ekajaya menginginkan lokasi yang dipilihnya dapat membuat seluruh anggota bebas bersendau gurau dan bercengkerama. Kegiatan makan bersama dan berdansa bersama pun menjadi suatu ritual wajib. Karena banyak sekali ide-ide cemerlang yang lahir saat berada di meja makan.

Meskipun terlihat hedonis, Chandra Ekajaya mengatakan bahwa komunitas ini tetap mempunyai banyak program-program untuk membantu sesama. Setiap sebulan sekali mereka mengunjungi panti jompo dan panti asuhan. Bila ada bencana, maka mereka pun mengunjungi warga yang terkena musibah. Sasaran dari program sosial mereka adalah masyarakat yang kurang mampu. Komunitas ini memberi banyak informasi serta inspirasi yang sangat membangun bagi kemaslahatan kemanusiaan.
Read More

Rabu, 11 Januari 2017

Yohanes Chandra Ekajaya Mencari Resep Sambal Bawang

Pagi itu Yohanes Chandra Ekajaya pusing mencari sebuah resep baru untuk rumah makan sederhananya, ia tak ingin membuat sambal bawang seperti biasa, ia ingin membuat sambal bawang dengan rasa yang khas dan sedap saat bercampur dengan nasi beserta lauk lainnya. Tak hanya resep sambal bawang, resep menu yang lainnya jg ingin di tingkatnya kualitasnya tentunya dengan peningkatan ini dapat meningkatkan harga yang ada.



Yohanes Chandra Ekajaya sadar bahwa yang ia lakukan dapat merubah pasar rumah makannya, ia ingin sekali membuat rumah makan sederhana menjadi rumah makan yang megah seperti restaurant ala barat dan eropa. Dengan perubahan yang sedikit demi sedikit ia lakukan, kini rumah makan sederhana memliki peminat dari segala kalangan, bahkan banyak bule yang ingin mencoba makanan lezat di rumah makannya tersebut.

Rumah makan sederhana kini berubah menjadi restaurant mewah, dimana harga menunya berada di range harga 100 ribu hingga jutaan, bahkan banyak orang- orang penting yang sudah mencoba makan di rumah makan ini. Kini rumah makan Yohanes Chandra Ekajaya yang dahulu sederhana berubah cepat menjadi tempat makan para jutawan.
Read More

Selasa, 10 Januari 2017

Yohanes Chandra Ekajaya Mengenal jenis ikan Cupang


Ikan cupang (Betta sp.) dikenal sebagai ikan petarung, agresif dan suka menyerang. Beberapa jenis ikan cupang memiliki warna tubuh yang menarik, bentuk siripnya indah, gerakannya tenang dan berwibawa. Ikan cupang dipelihara sebagai ikan hias dan ikan aduan. Habitat asli ikan cupang tersebar di wilayah Asia Tenggara, meliputi Thailand, Vietnam, Kamboja, Malaysia, Brunei dan Indonesia. Ikan ini banyak ditemukan di rawa-rawa, danau, lubuk, sawah, dan selokan yang menggenang.

Kebanyakan pehobi seperti Yohanes Chandra Ekajaya mengenal jenis ikan cupang dengan berbagai sebutan nama indah, seperti bulan sepotong (halfmoon), serit (crown tail), laga (plakat), cagak (double tail), dan berbagai variasi silangannya. Nama-nama tersebut ditentukan dari bentuknya, misalnya halfmoon memiliki sirip yang membentuk setengah lingkaran, serit memiliki sirip yang bergerigi runcing seperti sisir.

Namun tahukah Anda, jenis-jenis tersebut sebenarnya hanya sebagian kecil dari hasil silangan ikan cupang yang ada di alam?

Klasifikasi ilmiah ikan cupang

Dalam klasifikasi ilmiah kata Yohanes Chandra Ekajaya, ikan cupang termasuk dalam keluarga Osphronemidae, genus Betta, spesies Betta sp. Menurut Fish Identification, hingga saat ini telah diketahui 73 spesies ikan cupang yang terdapat di alam.

Spesies-spesies tersebut dikelompokkan ke dalam kompleks. Pengelompokkan ini dibuat untuk tujuan konservasi, kemudahan budidaya dan penyilangan (breeding).

Saat ini terdapat lebih dari 13 kompleks ikan cupang, yang paling populer adalah splendens complex. Antar spesies dalam satu kompleks biasanya bisa disilangkan. Splendens complex terdiri dari lima spesies, diantaranya Betta stiktos, Betta mahachai, Betta smaragdina, Betta imbellis, dan Betta splendens itu sendiri.

Kebanyakan ikan cupang yang dijual dipasaran berasal dari kelompok splendens complex. Yohanes Chandra Ekajaya mengutarakan bahwa jenis yang paling populer di kalangan penghobi adalah Betta splendens atau sering juga disebut sebagai Siamese fighting fish alias ikan petarung dari Siam. Beberapa silangan dari Betta splendens menghasilkan jenis-jenis ikan cupang yang menarik.


Jenis ikan cupang populer

Seperti sudah disinggung sebelumnya, para breeder dan pehobi mengelompokkan jenis ikan cupang berdasarkan penampakan bentuk dan warnanya. Setiap hasil silangan yang mempunyai bentuk dan karakter yang khas, akan diberikan nama tersendiri. Jenis-jenis ikan cupang yang paling populer adalah sebagai berikut.

Jenis ikan cupang

1. Halfmoon (bulan sepotong)
Seperti namanya, jenis ikan cupang halfmoon memiliki sirip dan ekor yang seolah menyatu membentuk setengah lingkaran. Bila dilihat dari samping, sirip ikan halfmoon berbentuk seperti bulan sebelah. Ikan cupang halfmoon dipelihara karena keindahannya. Jenis ini mempunyai varian warna yang beragam mulai dari merah menyala, kuning, dan varian warna lainnya.
2. Crown tail (serit)
Indonesia mungkin bisa sedikit berbangga, karena ikan cupang serit dilahirkan oleh para breeder dari daerah Slipi, Jakarta salah satunya ialah Yohanes Chandra Ekajaya sendiri. Cupang serit menjadi mendunia karena variasi keindahannya. Di sebut crown tail atau ekor mahkota, karena bila dibalik menghadap ke atas serit-serit pada ekornya terlihat seperti mahkota raja.

Jenis ikan cupang serit memiliki banyak varian. Ada yang seritnya tunggal, dimana dalam setiap serit hanya terdapat satu tulang sirip. Ada juga yang berserit dua atau serit ganda. Keindahan ikan cupang serit sudah diakui dunia dan dipertandingkan di International Betta Congress (IBC).

3. Plakat (petarung)

Plakat berasal dari istilah di Thailand yang artinya kurang lebih adalah tarung atau laga. Sesuai dengan namanya, jenis ikan cupang ini biasa digunakan sebagai cupang aduan. Thailand memang memiliki tradisi adu cupang yang sudah melegenda.

Sirip dan ekor cupang plakat biasanya pendek tidak menjumbai seperti serit dan halfmoon. Karena pendek, sirip tersebut memberikan kesan kokoh dan kekar. Gerakan ikan cupang plakat tidak terlalu anggun tapi terlihat lebih sangar.

4. Dauble tail (cagak)

Disebut double tail karena bagian ekornya terbelah dua, seperti bercagak dua. Jenis ikan cupang double tail tergolong sulit dikembangkan. Oleh karena itu keberadaannya masih jarang dijumpai di pasaran.

5. Giant (raksasa)

Ikan cupang raksasa ini berhasil dikembangkan breeder dari Thailand. Ukuran terbesarnya mencapai 12 cm, jauh lebih besar dari jenis ikan cupang lainnya. Cupang raksasa ini dikembangkan dari cupang plakat, yang disilangkan dengan cupang lainnya. Saat ini, berbagai terdapat berbagai jenis ikan cupang raksasa, diantaranya halfmoon giant, double tail giant dan crown tail giant.

Cupang hias vs cupang adu

Sebenarnya tak ada aturan jelas yang membedakan cupang hias dan cupang adu. Semua splendens complex berkarakteragresif dan bisa di adu kata YohanesChandra Ekajaya. Jadi sangat tergantung pada pemiliknya, karena cupang hias pun sebenarnya bisa menjadi petarung yang tangguh. Dan cupang adu pun ada yang elok untuk dipandang.


Namun meskipun begitu, kita bisa memperkirakan karakter dan postur seperti apa yang bisa dijadikan cupang adu. Sehingga dengan sedikit latihan, bisa menjadi petarung yang tangguh. Begitu juga dalam menentukan cupang hias. Kita bisa memperkirakan ikan seperti apa yang mempunyai bakat sebagai cupang hias
Read More